CINTA ITU SEDERHANA, YANG RUMIT ITU...(PART 4) NOVELKU
TAK INGIN USAI (Kesya L)
Setelah selesai berdoa, menunggu banyak orang untuk pulang, aku bertahan sebentar sebelum keluar gereja. Di luar gereja aku bertemu dan bersalam-salam dengan banyak orang. Tak luput dari pandanganku, aku ikut bersalaman dengannya. Aku melangkahkan kakiku menuju parkir, sambil melihat sekeliling, dia sempat melihatku.
Perjumpaan pertama itu kulupakan. Setelah beberapa hari berlalu, aku bertemu lagi dengannya. Sebut saja si U, kita omong-omong tentang asal dll. Ah ternyata sama-sama dari daerah yang sama. Akhirnya sejak itu kita sering berkomunikasi. Komunikasi sejauh say hello dan bisa dihitung dengan jari. Hari itu dia WA, "Yuk jalan-jalan.." Balasku, "Kemana memang?". Balasnya, " Beli tanaman ke atas.." Balasku, " Baiklah, nanti aku sama temanku ya". Jawabnya, "Ok".
Hari itu kami bertiga jalan-jalan mengantar dia beli tanaman sambil liat view yang segar dan hijau. Ah pemandangan yang indah dan bagus. Sebelum beli tanaman ternyata dia mengajak kita jalan-jalan ke candi dan foto-fotolah kami disana. Setelah itu kami melanjutkan beli tanaman. Melihat suasana yang indah smabil menunggunya liat-liat tanaman, aku dan temanku mencoba masuk tempat wisata tapi tidak jadi karena harus membayar. Setalah selesai kami pulang. Dalam perjalanan dia menyuruh kami beli buah yang disuka di pasar pinggir jalan. Dia memberikan amplop angpao merah untuk membayar. Pikirku, " Percaya amat nih orang samaku". Setelah memilih-milih buah alpukat, kami pulang.
Sejak pertemuan itu, komunikasiku lancar sama dia. Setelah beberapa hari berlalu kita sama-sama sibuk dengan kesibukan masing-masing. Tiba-tiba WA masuk, " Yuk jalan-jalan, kan kamu belum pernah liat gereja ini kan?" Balasku, " Iya memang, mau kesana?" . Balasnya, " Iya yuk...". Setelah itu kami jalan-jalan lewat depan gereja itu dan berhenti sejenak. Tiba-tiba dia bilang," Aku mau omong"..Jawabku, "Ya omong saja susah amat.." Setelah itu dia bilang sesuatu, tapi aku mengabaikannya. Aku bilang harus jelas dunk. Setelah pulang , malamnya dia mengatakan lagi, aku bilang kalau belum jelas, omong kosong, abaikan.
Sejak hari itu dia tidak membahas pembicaraan lagi, tapi beberapa hari kemudian dia telepon dan VC. Dia mengatakan 3 kata ajaib, tapi aku merasa mungkin dia terpaksa mengatakan itu tapi kubiarkan saja. Hari-hari berlalu komunikasi dengannya lancar. Hari-hariku sering jalan dan kuliner sama dia karena kesibukan masing-masing.
Tahun berganti tahun, peristiwa demi peristiwa semua kulalui bersamanya. Antar jemput walaupun tidak sering tapi dia sangat membantuku dalam kesulitan dan semua kebutuhan yang kuperlukan. Si U orangnya santai, tenang, tapi kalau lagi jengkel atau marah bisa nadanya tinggi. Kadang aku hanya diam dan malas menanggapinya. Sekalinya ngambek tidak dituruti, diam cuek seribu bahasa. Terkadang aku buat yang lucu-lucu supaya bisa tertawa dan mengembalikan moodnya. Tak terasa kita dekat hampir kurang lebih 5 tahun.
Suatu hari dia tidak bisa dihubungi, di telepon atau di WA tidak merespon, takutnya dia sakit. Memang untuk komunikasi dia kalau tidak mood tidak akan membalas. Silent treatment menjadi senjata andalannya dan sudah hapal. Kali ini sudah tidak bisa dihubungi dan menghilang begitu saja tanpa ada kata-kata. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi walaupun aku butuh penjelasan namun tidak akan pernah kudapatkan. Perasaanku otomatis campur aduk nano-nano. Tapi sudahlah semua sudah berlalu, walaupun kenangan bersamanya tak bisa kulupakan. Terima kasih untuk semuanya, semoga kamu bahagia. Semoga harapanku tidak akan bertemu kembali dengannya, tapi aku sudah memaafkannya.
Tak Segampang itu (Anggi Marito)
Waktu demi waktuHari demi hariSadar ku t'lah sendiriKau t'lah pergi jauhTinggalkan dirikuTernyata ku rindu
No comments:
Post a Comment