Terkadang perjalanan itu tak semudah mengedipkan mata dalam sepersekian detik...perjalanan yang membuat manusia harus berjuang dengan segala keberadaannya. Seiring dengan perjalanan waktu, dunia ini, bumi ini semakin tua untuk dihuni oleh manusia. Namun dengan bertambah tua, manusia akan terus bergerak dan berubah. Manusia berlomba untuk menjadikan bumi ini dengan perubahan-perubahan pesat dalam berbagai bidang dan sisi manusiawinya. Mungkin kalau dihitung umur bumi ini tak ada manusia yang bisa menghitung secara pastinya. Hanya mengatakan bahwa bumi ini sudah tua. Bagi sebagian orang mungkin tidak penting sebuang angka bahkan memikirkan bumi yang dipijak ini. Manusia semakin tamak dan merasa diri menjadi Sang pencipta bumi ini. Bahwa masih ada yang melebihi dan melampaui alam semesta yang menghampar di bumi ini. Namun lagi-lagi ada sebagian manusia yang tak mengakui keberadaanNya.
Memanusiakan manusia adalah sebuah perjuangan tersendiri bagi makluk yang bernama manusia. Keberadaannya bersama seluruh alam ciptaan memampukan manusia menjadi makluk yang paling tinggi nilainya. Sedihnya dengan nilai yang tinggi itu semakin kesini semakin tidak memartabatkan manusia lainnya. Banyak teknologi yang berlomba-lomba untuk memudahkan manusia tanpa harus kerja keras. Esensi manusia semakin berkurang hanya karena sebuah teknologi dan yang berhubungan dengan duniawi. Memang semakin maju peradaban manusia, seharusnya semakin maju pola pikir dan esensinya sebagai manusia, namun semakin tidak memartabatkan manusia. Nilai-nilai yang dibangun seharusnya menjadikan manusia semakin down to earth.
Peristiwa demi peristiwa yang terjadi terkadang bahkan sering membuat hati miris, sedih dan prihatin. Sejak anak usia dini sudah kehilangan sebuah nilai yang seharusnya ditanamkan untuk memartabatkan manusia, memanusiakan manusia. Memang sejak jaman dahulu purbakala sudah ada banyak contohnya, pembunuhan manusia sudah tergambar jelas dalam peristiwa kain dan Habel. Tapi apakah Tuhan menciptakan manusia hanya untuk saling memusnahkan satu sama lain, sampai bangsa yang bernama manusia ini lenyap. Kisah sedih terus bergulir dengan berbagai cerita tak berkesudahan tentang perilaku manusia yang tak menghiraukan keberadaan Tuhan dalam hidupnya. Seakan-akan Tuhan tidak ada, tidak melihat semuanya, Tuhan tidak tidur. Terkadang memang Tuhan membiarkan bahkan tidak berbuat apapun, sehingga manusia seringkali protes. Padahal Tuhan Sang Maha mengetahui dan Maha segalanya itu tak perlu ada intervensi dari siapapun.
Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan untuk mengabdi, memuji dan memuliakan namaNya. Tugas manusia adalah saling memanusiakan manusia dan memartabatkan manusia. Namun tugas itu tidaklah mudah untuk jaman ini. Banyak kendala dan hambatan untuk melakukan tugas tersebut karena masih ada degradasi ukuran yang dibuat oleh manusia untuk menjadi manusia yang baik menurut ukurannya sendiri. Suka tidak suka, baik jahat, miskin kaya, rupawan buruk rupa, pintar bodoh, rajin malas menurut ukurannya sendiri. Padahal esensi sebagai manusia ya harus wajib memanusiakan manusia...Manusia diciptakan secitra dengan gambar Allah, maka manusia satu dengan yang lain adalah manusia yang sama-sama secitra dengan Allah yang seharusnya hidup ketersalingan dalam hidup berdampingan. Tuhan juga menciptakan kejahatan dan kebaikan dalam diri manusia supaya bertumbuh beriringan. Manusia tidak bisa mencabut keduanya dari dirinya kecuali pada saatnya nanti Tuhanlah yang akan mencabut ciptaanNya sendiri. Hanya kadar prosentasenya kebaikan dan kejahatan pada setiap manusia tersebut hanya dia dan Tuhan yang tahu. Hati setiap manusia tidak ada yang tahu. Hari ini bisa baik, sepersekian detik bisa menjadi jahat melebihi seorang Iblis/setan.
Untuk itu ketika masih hidup di dunia, marilah kita selalu berlomba-lomba minimal sadar dan menyadari tujuan aku sebagai manusia diciptakan apa. Sadar bahwa manusia harus saling menjaga hati masing-masing untuk berbuat baik dan benar. Ada pepatah mengatakan Hidup yang salah dimulai dari pikiran yang berMASALAH, Hidup yang benar dimulai dari pikiran yang BENAR dan Hidup yang berkualitas dimulai dari pikiran yang BERKUALITAS.
myofficeroom
No comments:
Post a Comment