Sunday, May 28, 2023

CINTA ITU SEDERHANA, YANG RUMIT ITU...(PART 2)

 CINTA ITU SEDERHANA, YANG RUMIT ITU...(PART 2) Novelku


        Siang itu, kami menjemput sebut saja si R dan mengantar si R ke kost nya. Setelah kenalan dan tahu nama masing-masing kami pergi pulang. Hari itu seperti biasa, aku menerima tamu dengan sukacita...siang itu kedatangan banyak tamu di rumah, diantaranya ada juga yang masih studi. Salah satunya ketemu lagi dengan si R. "Selamat datang ya..sdh kerasan ?" tanyaku dengan senyum ramah. Jawabnya, " Yo dikrasan-krasan no, le ora yo pindah" dengan bhs jawa yang medok dan sedikit malu-malu. Setelah menjamu mereka, kami sibuk ngobrol sana sini di ruang tamu rumah, ada juga diantara mereka yang kukenal sehingga bisa ber haha hihi. Cerita berlanjut, si R minta nomer Hpku, akhirnya kita bertukar nomer. Tambah lagi teman pikirku. Setelah selesai acara, waktunya mereka berpamitan pulang. 

            Beberapa hari kemudian, tiba-tiba SMS masuk.."Apa kabar?"...kuliat ."Oh dari si R". jawabku, "Baik R...bagaimana enak tidak penyesuaian makanan dan sikon yang ada?" Balasannya, " Ya sebenarnya tidak suka tapi ya gimana lagi...bagaimana denganmu?" tanyanya kembali.  Kubalas, " Ya beginilah, terkadang krasan, terkadang tidak...". Percakapan siang itu hanya haha hihi saja...ringan saja. 

       Si R adalah mahasiswa yang menurutku cerdas otaknya dan orangnya introvert banget..dia melanjutkan studi doktoralnya disini. Usianya selisih 5 tahun di atasku membuat dia lebih matang dan dewasa dalam bertindak. Walaupun introvert, syukurlah dia dapat menyesuaikan sikon yang ada. Pada suatu hari dia bercerita mau pindah dari kosnya yang lama karena berisik tidak bisa belajar dengan baik. Akhirnya dia pindah kos yang tidak jauh dari kampusnya. Dia masih satu kos dengan yang lain walaupun tidak terlalu banyak mahasiswanya yang tinggal di kos barunya. Hari-harinya diwarnai dengan ketekunan studinya. Begitu juga komunikasinya denganku. 

      Suatu hari, kami ada acara di rumah, mereka diundang dan datang ke rumah. Diantaranya tak ketinggalan si R. Misa sederhana dan ramah tamah. Ternyata diam-diam dia mulai memotret candid ketika aku tugas dan pas ramah tamah. Hasilnya di kirim ke aku. Tak bilang terima kasih padanya. Komunikasinya denganku bisa dihitung dengan jari karena aku tahu kesibukannya sebagai mahasiswa.  

          Keseharian dan aktivitasku yang membuat aku juga lupa untuk komunikasi dengannya. Setelah beberapa bulan berlalu, kesibukan yang membuat aku merasa 'kacau', 'babak belur' dan membuatku mulai putus asa. Aku butuh teman bicara. Akhirnya dalam kesesakan dan kegalauan yang sangat aku memberanikan cerita pada si R. Aku mengatakan padanya bahwa saat ini aku merasa putus asa. " Apakah enak ya mati muda ?"...Jawabnya, "  Kenapa? apa yang kamu rasakan?" setengah kaget. Percakapan malam itu membuatku bersemangat kembali karena dukungan dan nasehatnya. Setelah hari dan bulan berlalu, aku berpamitan untuk kembali pulang. Dia masih menyelesaikan studinya disana.

       Aku memulai hari dan tugas baruku dengan sukacita. Tiba-tiba SMS masuk di Hpku, " Hai...apa kabar?..ah ternyata si R rupanya. Dengan senang kubalas SMSnya, " Baik kakak... apa kabar disana? Bagaimana studinya lancar?". Jawabnya, " Baik dan sehat dek, studiku ya masih berlangsung. doakan lancar ya.".  Balasku, " Syukurlah, ya baik tak doakan beres" kataku. Percakapan malam itu hanya say hello dan menanyakan kabar masing-masing. 

        Komunikasi dengannya mulai intens, karena dia mulai bercerita kembali apa yang terjadi dengan sikon yang ada, studinya dan macam hal. Kudengarkan ceritanya, tertawa bersama dan terkadang hal yang receh harus didiskusikan. Suatu malam dia mulai mengatakan padaku perasaannya selama ini. Aku yang merasa tidak "ngeh" ini seperti bertanya-tanya dalam hati. Ada apa gerangan yang terjadi. Aku mulai merasakan ada yang aneh merasukinya. Dia mengatakan dan bercerita bahwa sejak pertama kali berjumpa dan ngobrol denganku tumbuh perasaan yang berbeda. Perasaan yang tidak biasa dia rasakan selama ini. Ketika ngobrol denganku dia merasa nyaman dan merasa didengarkan. Tumbuh perasaan untuk lebih sebagai kakak dan adek. Ah..lagi-lagi kuterima perasaan yang seperti itu...awalnya aku senang punya kakak yang bisa diajak diskusi tentang apapun. Setelah mendengarkan dan merasakan apa yang dia rasakan, aku mulai mengerti dan diam saja. 

       Percakapan malam itu sudah kulupakan tanpa mengatakan iya atau tidak menerima perasaannya padaku. Kulalui hari-hariku dengan sukacita.  Setiap hari dia mulai komunikasi denganku..entahlah ...seperti biasa aku tetap menjalani dengan tidak terjadi apa-apa. Akhirnya aku luluh juga menerima perasaannya. Kami mulai dekat tapi LDR. Suatu kali dia mengatakan padaku, kalau dia melihat ibu hamil di kampusnya lewat. Dia teringat padaku, dan mengajak aku menikah. Kata-katanya yang lembut itu membuatku luluh tapi kujawab tidak usah dipikirkan.

        Dia sudah menyelesaikan studinya dan kembali pulang. Perjumpaan dan pertemuan kita bisa dihitung dengan jari. Setelah drama bertahun-tahun berlangsung, mulailah komunikasi dengannya tidak seintens dulu, dia sibuk dengan tugasnya mengajar dan aku juga sibuk dengan aktivitasku. Sudah 9 tahun kami dekat tapi karena LDR., mulai kuabaikan pikiran dan perasaanku padanya. Tanpa ada kata berpisah , kami akhirnya bebas menjadi teman kembali seperti biasa. Kami menjalani hidup kami masing-masing tanpa harus menyakiti. Kebebasannya dan kemandiriannya membuatku merasa  bersyukur bahwa cinta tidak harus memiliki. Terima kasih untuk 9 tahunnya...banyak hal yang kupelajari darimu.  

No comments:

Post a Comment

BERSAHABAT DENGAN DIRI

  BERSAHABAT DENGAN DIRI     Perjalanan menuju dalam diri ternyata sebegitu mengasyikkan. Berawal dari refleksi dalam diri...bahwa tubuh ini...