Sunday, May 28, 2023

CINTA ITU SEDERHANA, YANG RUMIT ITU...(PART 2)

 CINTA ITU SEDERHANA, YANG RUMIT ITU...(PART 2) Novelku


        Siang itu, kami menjemput sebut saja si R dan mengantar si R ke kost nya. Setelah kenalan dan tahu nama masing-masing kami pergi pulang. Hari itu seperti biasa, aku menerima tamu dengan sukacita...siang itu kedatangan banyak tamu di rumah, diantaranya ada juga yang masih studi. Salah satunya ketemu lagi dengan si R. "Selamat datang ya..sdh kerasan ?" tanyaku dengan senyum ramah. Jawabnya, " Yo dikrasan-krasan no, le ora yo pindah" dengan bhs jawa yang medok dan sedikit malu-malu. Setelah menjamu mereka, kami sibuk ngobrol sana sini di ruang tamu rumah, ada juga diantara mereka yang kukenal sehingga bisa ber haha hihi. Cerita berlanjut, si R minta nomer Hpku, akhirnya kita bertukar nomer. Tambah lagi teman pikirku. Setelah selesai acara, waktunya mereka berpamitan pulang. 

            Beberapa hari kemudian, tiba-tiba SMS masuk.."Apa kabar?"...kuliat ."Oh dari si R". jawabku, "Baik R...bagaimana enak tidak penyesuaian makanan dan sikon yang ada?" Balasannya, " Ya sebenarnya tidak suka tapi ya gimana lagi...bagaimana denganmu?" tanyanya kembali.  Kubalas, " Ya beginilah, terkadang krasan, terkadang tidak...". Percakapan siang itu hanya haha hihi saja...ringan saja. 

       Si R adalah mahasiswa yang menurutku cerdas otaknya dan orangnya introvert banget..dia melanjutkan studi doktoralnya disini. Usianya selisih 5 tahun di atasku membuat dia lebih matang dan dewasa dalam bertindak. Walaupun introvert, syukurlah dia dapat menyesuaikan sikon yang ada. Pada suatu hari dia bercerita mau pindah dari kosnya yang lama karena berisik tidak bisa belajar dengan baik. Akhirnya dia pindah kos yang tidak jauh dari kampusnya. Dia masih satu kos dengan yang lain walaupun tidak terlalu banyak mahasiswanya yang tinggal di kos barunya. Hari-harinya diwarnai dengan ketekunan studinya. Begitu juga komunikasinya denganku. 

      Suatu hari, kami ada acara di rumah, mereka diundang dan datang ke rumah. Diantaranya tak ketinggalan si R. Misa sederhana dan ramah tamah. Ternyata diam-diam dia mulai memotret candid ketika aku tugas dan pas ramah tamah. Hasilnya di kirim ke aku. Tak bilang terima kasih padanya. Komunikasinya denganku bisa dihitung dengan jari karena aku tahu kesibukannya sebagai mahasiswa.  

          Keseharian dan aktivitasku yang membuat aku juga lupa untuk komunikasi dengannya. Setelah beberapa bulan berlalu, kesibukan yang membuat aku merasa 'kacau', 'babak belur' dan membuatku mulai putus asa. Aku butuh teman bicara. Akhirnya dalam kesesakan dan kegalauan yang sangat aku memberanikan cerita pada si R. Aku mengatakan padanya bahwa saat ini aku merasa putus asa. " Apakah enak ya mati muda ?"...Jawabnya, "  Kenapa? apa yang kamu rasakan?" setengah kaget. Percakapan malam itu membuatku bersemangat kembali karena dukungan dan nasehatnya. Setelah hari dan bulan berlalu, aku berpamitan untuk kembali pulang. Dia masih menyelesaikan studinya disana.

       Aku memulai hari dan tugas baruku dengan sukacita. Tiba-tiba SMS masuk di Hpku, " Hai...apa kabar?..ah ternyata si R rupanya. Dengan senang kubalas SMSnya, " Baik kakak... apa kabar disana? Bagaimana studinya lancar?". Jawabnya, " Baik dan sehat dek, studiku ya masih berlangsung. doakan lancar ya.".  Balasku, " Syukurlah, ya baik tak doakan beres" kataku. Percakapan malam itu hanya say hello dan menanyakan kabar masing-masing. 

        Komunikasi dengannya mulai intens, karena dia mulai bercerita kembali apa yang terjadi dengan sikon yang ada, studinya dan macam hal. Kudengarkan ceritanya, tertawa bersama dan terkadang hal yang receh harus didiskusikan. Suatu malam dia mulai mengatakan padaku perasaannya selama ini. Aku yang merasa tidak "ngeh" ini seperti bertanya-tanya dalam hati. Ada apa gerangan yang terjadi. Aku mulai merasakan ada yang aneh merasukinya. Dia mengatakan dan bercerita bahwa sejak pertama kali berjumpa dan ngobrol denganku tumbuh perasaan yang berbeda. Perasaan yang tidak biasa dia rasakan selama ini. Ketika ngobrol denganku dia merasa nyaman dan merasa didengarkan. Tumbuh perasaan untuk lebih sebagai kakak dan adek. Ah..lagi-lagi kuterima perasaan yang seperti itu...awalnya aku senang punya kakak yang bisa diajak diskusi tentang apapun. Setelah mendengarkan dan merasakan apa yang dia rasakan, aku mulai mengerti dan diam saja. 

       Percakapan malam itu sudah kulupakan tanpa mengatakan iya atau tidak menerima perasaannya padaku. Kulalui hari-hariku dengan sukacita.  Setiap hari dia mulai komunikasi denganku..entahlah ...seperti biasa aku tetap menjalani dengan tidak terjadi apa-apa. Akhirnya aku luluh juga menerima perasaannya. Kami mulai dekat tapi LDR. Suatu kali dia mengatakan padaku, kalau dia melihat ibu hamil di kampusnya lewat. Dia teringat padaku, dan mengajak aku menikah. Kata-katanya yang lembut itu membuatku luluh tapi kujawab tidak usah dipikirkan.

        Dia sudah menyelesaikan studinya dan kembali pulang. Perjumpaan dan pertemuan kita bisa dihitung dengan jari. Setelah drama bertahun-tahun berlangsung, mulailah komunikasi dengannya tidak seintens dulu, dia sibuk dengan tugasnya mengajar dan aku juga sibuk dengan aktivitasku. Sudah 9 tahun kami dekat tapi karena LDR., mulai kuabaikan pikiran dan perasaanku padanya. Tanpa ada kata berpisah , kami akhirnya bebas menjadi teman kembali seperti biasa. Kami menjalani hidup kami masing-masing tanpa harus menyakiti. Kebebasannya dan kemandiriannya membuatku merasa  bersyukur bahwa cinta tidak harus memiliki. Terima kasih untuk 9 tahunnya...banyak hal yang kupelajari darimu.  

CINTA ITU SEDERHANA, YANG RUMIT ITU ......(Part 1)

 CINTA ITU SEDERHANA, YANG RUMIT ITU.....(Part 1) Novelku 


Kutemui dia sebut saja si O dan mengatakan kepadaku, " Aku pingin jadi Romo" katanya. Setelah sekian lama berlalu ...akhirnya dia mewujudkan mimpinya itu dengan bangga..."Datang ya ke acara penjubahanku..."  . Akhirnya kuliat dia gembira menerima jubah itu, kelihatan bersinar dan gagah dengan jubah itu. Kuberikan selamat atas penerimaan jubah itu...dengan senyum mengembang, kami bersalaman, kukatakan padanya, " Semoga setia sampai akhir ya..." jawabnya, .."terima kasih kakak, doakan ya...". Acara itu sederhana dan sakral..banyak yang dihadiri orang tua, namun tak kuliat orang tuanya ada diantara mereka, namun dia tetap bersukacita membaur dengan teman-temannya dan para undangan lainnya. 

Setelah acara itu, waktu terus berjalan, dia tetap berkomunikasi denganku, segala curhatan, pergumulan dan perjuangannya selalu diceritakan padaku. Aku sudah  dianggapnya kakak perempuan yang bisa mengerti dia dan mendengarkan dia. Maklumlah dia adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Dia mempunyai adik perempuan yang dulu pernah menjadi muridku. Aku juga sudah mengenal keluarganya sehingga tak membuatku canggung atau asing di tengah keluarganya yang sederhana. 

Waktu terus berlalu, sampai akhirnya aku harus berpindah dari kota ke kota mengikuti tugas  yang harus kuterima dari kantor. Hampir 2 tahun sudah aku sudah membimbingnya dalam setiap pergumulan dan perjuangannya menjadi seorang calon Romo. Aku bersyukur bahwa banyak hal yang berkembang dalam dirinya. Kuliahnya yang menguras energinya mau tidak mau harus diselesaikan dengan susah payah. Suatu ketika dia mengatakan " Aku kesulitan membuat skripsi, tapi aku bersyukur dibantu teman-temanku", katanya. Jawabku, ...Syukurlah, kamu harus tetap semangat ya, tekuni itu dan selesaikanlah...pasti akan selesai skripsimu". Setelah berjibaku dengan skripsinya, akhirnya dia dapat menyelesaikan dengan baik dan lancar, pembimbingnya yang katanya 'killer' akhirnya meluluskan dia dengan nilai yang memuaskan. Aku ikut senang dengan kerja kerasnya. Satu tahap dia bisa melewatinya dengan baik dan lancar. 

Tibalah dia harus menjalankan perutusan tugas TOP yaitu Tugas Orientasi Pastoral. Dia mendapat tugas di daerah sebut saja kota K. Aku merasa senang bahwa tugasnya kali ini,  dia lebih menikmati dan mengubah cara pandangnya dalam berpastoral. "Kk, aku merasa tertantang dengan segala tugas yang diberikan, disisi lain aku harus berpikir bagaimana harus menghadapi sikap Rm pembimbingku yang notabene "seperti itu" katanya."  Jawabku," sabarlah, setiap orang harus berproses, kita bisa berkembang kalau ada tantangan dan rintangan. Namun yakinlah Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan kita. Hidupku juga tidak mulus dan lancar-lancar selalu. Kamu harus berjuang bagaimana bisa hidup bersama orang yang tidak bisa 'klik' denganmu, disitu kamu harus belajar sabar dan rendah hati untuk memahami setiap pribadi yang hidup bersamamu. Semakin 'hidup' kamu akan banyak belajar dari semua peristiwa untuk bekal dalam perjalanan panjangmu sebagai calon Romo dan akan menjadi Romo dengan tugas yang tidak mudah..jawabku." Katanya kepadaku, " Aku sudah berusaha namun ternyata aku harus banyak berbenturan karenanya. Bisakah aku bisa bertahan kakak?". Jawabku, " Bisa selagi kamu mau berjuang dan tekun setia...tapi kalau kamu belum berjuang dan mencoba dan mentok jadi jalan buntu tanpa ada solusi, kamu bisa mengatakan kepada Romo pembimbingmu, pasti akan dibantu masalahmu."

Selama 1 tahun berpastoral, dia akhirnya dapat dengan susah payah menyelesaikan TOP nya dengan baik. Perjalanan harus dilanjutkan, pembinaan terus diterima sebagai calon Romo. Setelah selesai S1 harus melanjutkan S2. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. 

Tiba-tiba dia mengatakan padaku, "Kakak aku sudah tidak tahan, aku akan mengakhirinya". Kata-kata itu membuatku merasa bahwa panggilan seseorang tidak bisa dipaksakan. Panggilan itu misteri antara yang dipanggil dan Tuhan. Kuterima keputusannya dengan hati bebas walaupun aku tidak terlalu kaget dengan keputusannya. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan menjadi Imam. 

Sebelum ketemu aku, dia sudah berpacaran dan mengenal banyak cewek sampai memutuskan untuk jadi calon Romo. Aku rasa motivasinya waktu itu benar-benar matang untuk memutuskan "YA" mau masuk ternyata aku salah. Motivasi yang tersembunyi yang belum kusadari kutemukan dalam perjalanan hidupnya. Setelah kudalami dan kuanalisis, motivasinya adalah masuk menjadi calon imam sebagai batu loncatan agar dia dapat kuliah dengan gratis dan bisa mendapat gelar, karena aku tahu bagaimana keluarganya yang sederhana tidak bisa menguliahkan dirinya sebagai anak pertama. Sedangkan adiknya juga dapat kuliah dengan bantuan ikatan dinas.  

Dalam perjalanannya sebagai calon Romo dan kedekatannya padaku, pernah dia mengungkapkan bahwa dia mencintaiku. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa dia bisa mengatakan itu kepadaku. Jarak umur yang selisih jauh 9 tahun sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Namun entahlah apa yang ada dalam pikirannya. Dia berusaha untuk mau menikahi aku, namun kutolak dengan halus. Tak kukatakan alasannya, namun dia sudah tahu apa yang terjadi. 

Suatu waktu, aku harus berpindah ke tempat yang jauh, dia masih berkomunikasi denganku dengan segala pergulatannya. Aku masih mendengarkan dan menerima curhatannya. Aku juga merasa bahwa begitu bodohnya aku masih berusaha untuk membimbingnya dengan segala suka dukanya. Dan akhirnya waktu itu tiba, tanpa mengatakan apapun dia memutuskan keluar dan menjalin hubungan dengan seorang janda anak 1 perempuan. Aku hanya mendengar dan mengetahui dari adiknya dan dari medsosnya. Dia memutuskan untuk menikahi janda itu dan mempunyai 2 orang anak laki-laki. Awalnya dia mengatakan bahwa pacarnya itu mirip mukanya denganku dan dia tidak melupakan aku. Ah, sudahlah biarlah cerita sudah selesai disini...semuanya sudah berlalu...Setelah 13 tahun mengenalnya, kuakhiri untuk tidak bersua lagi dengannya.

Suatu hari, pagi-pagi buta , aku melakukan perjalanan kereta pagi, dia tiba-tiba telepon padahal nomornya sudah kuhapus dari HPku dan mengatakan " Apa kabarmu?"...kuterima telepon itu dengan berat, entahlah dalam hatiku ada rasa sedih hadir menahan airmata untuk tidak jatuh, "Halo...baik, ada apa?" dengan nada tak bersahabat. Jawabnya, " Santai saja ga usah marah, tiba-tiba aku  mimpi kamu sakit dan dirawat di RS, kamu sehat kan?". Jawabku, " Sehat dan baik-baik saja". Kawabnya, "Baiklah kalau sehat dan baik-baik saja, kuharap selalu demikian." . Kututup percakapan itu dengan rasa sedih, tapi kubiarkan rasa itu mulai berangsur-angsur menjauh. Itulah terakhir aku mendengar suaranya. Kututup semua cerita dan berita tentang dia. 

 Sekian lama purnama berlalu, tiba-tiba SMS masuk..."Kenapa aku tidak  bertemu denganmu?", kamu ga ikut acara? katanya. Memang nomernya dia hanya kuhapus belum kublokir. Aku mencoba menjawab, "Kenapa, aku memang tidak hadir, malas dan aku tahu kamu pasti hadir!". Jawabnya," Oh begitu, padahal aku hadir berharap dapat bertemu denganmu", katanya. Tak kubalas lagi SMS nya. Aku mulai memblokir nomernya. 

Aku berharap bahwa tidak akan lagi bertemu dengannya dan aku hanya bisa mendengar dan melihat dari medsosnya bahwa dia berusaha untuk menghidupi keluarganya dengan kerja keras dan bertanggung jawab. Syukurlah...Berbahagialah...dalam hatiku.... 

 

 



Saturday, May 20, 2023

JATUH

 Jumat, 12 Mei 2023

Hari itu adalah hari dimana aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku merasakan sebuah peristiwa yang tidak aku sangka-sangka. Setelah sekian lama aku berurusan dengan yang namanya pasien , hari itu aku harus menjadi pasien beneran...walaupun pengalaman pertama dirawat karena covid delta namun bagiku itu bukan sebagai pasien karena tidak perlu suntik sana sini pake infus dll. 

Pengalaman jadi pasien harus diawali dengan drama kejatuhan pintu gerbang besi garasi yang biasanya dipake garasi mobil dokter di belakang klinik. Hari itu Pk. 16.00 WIB aku harus menjemput Suster tamu ku dari selesai dirawat covid di RSJ...setelah penjemputan beres..tibalah sampai rumah...pikirannku ya seperti biasa lewat gerbang rumah..ternyata aku harus lewat gerbang samping ...dan terjadilah peristiwa itu...setelah turun dari grab yang kutumpangi, Suster yg sakit masuk duluan, dan aku membawa barang bawaan yg banyak dengan tangan kanan, tangan kiriku menutup gerbang dan tiba-tiba roboh menimpaku..kekagetanku membuat aku reflek teriak dan mundur-mundur dan jatuh dengan pantat sebelah kanan lebih dulu. Setelah tertindih..susterku yg habis sakit covid itu menolongku mengangkat gerbang besi itu dengan teriak minta tolong pak Grab..akhirnya terdengar dan dibantu mengangkat gerbang itu memindahkan dari tubuhku. Dengan menahan sakit dan derai airmata aku bilang terima kasih pada pak Grab ...dan aku tidak perlu ditolong..biarkan saja...

Aku terduduk dengan sakit yg luar biasa...sepertinya kakiku tak bisa merasakan apa-apa..hanya aku merasa tidak ada yang patah...namun kali itu sakit yang luar biasa...derai airmata trs mengalir...semua berdatangan dan aku minta tidak usah ditolong..kuminta panggilkan ambulan..Ambulan datang dan mengarahkan kakiku, mengecek apakah kakiku ada yang patah...syukurlah aku tidak merasakan sakit ketika kakiku diangkat dengan bantuan mereka. akhirnya ambulan membawaku ke RSJ terdekat dari rumah. 

Dalam perjalanan itu aku berdoa..Tuhan terima kasih kakiku tidak patah...terima kasih untuk pertolonganMu...walaupun harus  menahan sedih dan sakit...kuajak bicara kakiku untuk sembuh..Kakiku sehat ya..walaupun saat ini kamu harus kesakitan....bertahanlah...kuajak kakiku bicara...karena selama ini aku selalu mengajak bicara tubuhku dari ujung rambut sampai kaki..baik organ  dalam maupun organ luar dalam ritual mandiku. Terima kasih sama Tuhan sudah diberi sehat dan terima kasih sama tubuhku yang sudah bekerja keras dan sehat sampai hari ini. 

Dan kali ini kaki sampai pantat harus kurasakan sakit yang luar biasa... dan aku harus bertahan..menerima semua peristiwa. Setelah sekian lama aku dikaruniai kesehatan yang baik Oleh Tuhan, bersyukur untuk CintaNya yg luar biasa. Mengapa aku harus menghindar dari cobaan-Nya..yang selalu kusakiti dengan perbuatan-perbuatanku yang melanggar cintaNya padaku. 

Cerita peristiwa itu membuat banyak orang bertanya..kok bisa? bahan tertawaan karena pikirnya gerbang itu hanya kecil...namun itulah hidup..terkadang harus menertawakan diri sendiri...ditertawakan bagi mereka yang tidak bisa merasakan sakit dan musibah yang sama... untunglah dikaruniai mental yang kuat...sebagai dasar seorang perawat aku bersyukur menerima itu semua dan melewati segala proses pengobatan yang sudah diusahakan oleh pimpinanku dan para susterku. Aku merasa dicintai dengan keberadaan mereka yang siap membantu dan menemaniku dalam sakitku. 

Selain dari pimpinan  dan para susterku, peristiwa ini juga kuceritakan pada Ibu dan kakak2ku  yang menjadi support system dan orang yang aku sayangi. Mereka menjadi hiburan dan pendukung ku dengan doa dan sapaan-sapaan yang menghiburku...Kebutuhan rohaniku (Misa, doa pribadi brevir, rosario, terima tubuh Kristus) terjaga dalam proses pemulihan dan proses pengobatanku. 

Setelah 2 hari dirawat di RSJ dengan BPJS dengan hasil bahwa tidak ada patah tulang atau retak  , atas anjuran pimpinanku aku harus pindah RS yang bisa memantau sakitku lebih detail. Berpindahlah aku ke RSPR Yogyakarta dengan segala observasinya yang detail...difotolah aku sekali lagi bagian yang sakit dan Puji Tuhan hasilnya tidak ada yang patah atau retak...selanjutnya harus diperiksa syarafnya. Setelah urusan administrasi yang cukup lama di IGD akhirnya aku masuk di ruang rawat inap dan ditangani dokter Syaraf dan dokter fisioterapi. Karena aku masuk hari Sabtu malam dan hari Minggu dokter tidak visit, malam itu aku menikmati ruangan rawat inap dalam kesendirian dengan bantuan perawat untuk mengurus aku. Selama 2 hari  3 malam tidak ada yang menemaniku karena para susterku jauh dan sakit. Aku pasrah selagi aku bisa mengurus diri sendiri, aku merenung biasanya aku selalu mengurus pasien sakit dan mengusahakan yang terbaik namun kali ini aku harus sendirian karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sempat para perawat mungkin ngomel karena aku tidak ada yang jaga, wajah ogah-ogahan membantuku kumaklumi tapi aku berpikir " ini tugasmu juga" kenapa jadi malas-malasan membantu pasien...untunglah aku bersabar dengan senyuman dan selalu mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka. 

Hari ke 3 senin siang hari aku boleh ditemani adek Srku sampai hari Selasa pagi..dan berganti pimpinanku sampai hari Rabu siang. Selama hari-hari di RS..aku bisa merasakan tusukan demi tusukan jarum infus dan jarum obat..linunya obat-obatan yang masuk ..pemandangan ketika aku praktek dan mengurusi yang sakit-sakit kini harus kualami sendiri. Fisioterapi sudah kulakukan selama 2 hari dan membuatku untuk belajar jalan sendiri untuk urusan toileting walaupun dengan rasa sakit yang masih ada...aku harus cepat sembuh. Kunjungan dokter syarafku (Dr. Agus) dan dokter fisoterapiku (Dr.John) memberitahukan dignosaku bahwa hasil MRI ada syaraf tulang belakang L3-4, L4-5 terjadi trauma benturan grade 1..kata dokter masih ringan asala dilatih terus menerus dan harus hari-hati. Puji Tuhan kuucapkan ..Tuhan Yesus dan Bunda Maria masih melindungku dari hal-hal yang berat daripada itu. Hari-hariku kulalui dengan rasa syukur..kurasakan banyak yang mendoakan aku baik yang kukenal maupun tidak kukenal. Syukur juga aku boleh dikunjungi para susterku komunitas mliwis dan mbak Eko, dikunjungi saudaraku yang dari jogja (Mbak Anna dan Mbak Ayuk) yang selama ini jarang ketemu mungkin 1x  dan berkabar-kabar ria. Ah Tuhan memang baik. Belum juga hiburan dari teman-temanku lewat telp maupun WA. 

Rabu, 17 Mei 2023

 Hari ini setelah fisioterapi, aku diperbolehkan pulang oleh dokter syarafku...setelah 5 hari berada di RSPR ini akhirnya aku harus pulang dengan kondisi sakit masih kurasakan..karena sebelumnya mungkin karena suntikan nyeri, kali ini tidak disuntik mulai sekujur tubuhku sakit semua, kaki kiri yang semula tidak sakit mulai sakit. Aku di antar dengan kursi roda menuju halaman IGD ditunggu Grab yang akan mengantar kami berdua ke Magelang. Setelah sampai rumah, mulailah drama kesakitan menjalar kembali..seluruh tubuhku sakit semua..seperti yang kurasakan ketika kena covid, aku menduga imunku lagi berperang dengan nyeriku...kualami sekali lagi..harus bersabar dengan proses.. puji Tuhan para susterku dan mbak Tini setia merawatku...

Kamis, 18 Mei - Minggu, 21 Mei 2023

Kualami penyertaan Tuhan dengan berangsur rasa nyeriku berkurang. Kuserukan Alangkah BaikNya Tuhan Yang Mahabaik, kebutuhan rohani dan jasmaniku terjaga dengan baik demi proses penyembuhanku, sapaan teman-temanku dan kunjungan prodiakon yang tiba-tiba juga memberiku semangat untuk sembuh. Aku mulai mandiri untuk berjalan walaupun dibantu dengan walker, rasa njarem dan nyeri masih sedikit-sedikit kurasakan namun rasa sakit seluruh tubuh sudah hilang, ku bersyukur berproses untuk mandiri kembali. Kebaikan Tuhan lewat para susterku dikomunitas dan adik-adik aspiran serta Mbak Tini yang merawatku dengan sabar dan sukacita membuat aku semakin bersyukur dan bersukacita untuk berjuang sembuh dan orang yang kusayang tentunya selalu hadir mewarnai hari-hariku. 

Terima kasih Tuhan untuk rasa sakit ini..kurasakan menjadi pasien dan menjadikan aku untuk bisa berempati dan bersimpati pada mereka yang sakit untuk bekal bagi mereka yang akan kurawat dan kuperhatikan dalam proses sakit dan penderitaannya. 

Selain itu dengan adanya peristiwa ini segala rencanaku sebagai koordinator promosi panggilan tidak bisa ikut kegiatan yang kurencanakan. Puji Tuhan banyak yang membantu kegiatan ini yaitu Outbond Panggilan di Seminari Mertoyudan yang hari ini dilaksanakan. Syukurlah adik-adik Susterku dan ibu-ibu, bapak yang menghandle semuanya sehingga kegiatan hari ini dapat terlaksana. Tuhan Maha Baik.

Kesanggupan untuk bersabar dan bertahan dalam pikiran yang positif merupakan dasar dari loncatan-loncatan kita selanjutnya. Kita bisa mengeluh mawar memiliki duri atau bersukacita karena duri memiliki mawar. Segera setelah kita menggantikan pikiran-pikiran negatif dengan yang positif, kita akan mulai mendapatkan hasil yang positif. Bersyukur atas apapun yang terjadi di hidupmu, itu semua pengalaman. Makin kita memberi makan pikiranmu dengan pikiran-pikiran positif, makin kita dapat menarik hal-hal hebat ke dalam hidup kita. Sikap positif mungkin tidak bisa menyelesaikan semua masalah, tapi bisa membuat penyelesaian masalah menjadi pengalaman yang lebih menyenangkan. Setiap musibah yang menimpa kita, ingatlah untuk bercermin dan bertanya tentang daya apa yang bisa kita upayakan guna menarik pelajaran positif dari kejadian itu. Hidup itu bukan mengenai seberapa berat masalah yang datang menghampiri kita, namun mengenai seberapa positif kita mampu merespons segala permasalahan tersebut.


Depan kamarku, 21 Mei 2023 pk. 12.23 WIB


BERSAHABAT DENGAN DIRI

  BERSAHABAT DENGAN DIRI     Perjalanan menuju dalam diri ternyata sebegitu mengasyikkan. Berawal dari refleksi dalam diri...bahwa tubuh ini...