Sunday, May 28, 2023

CINTA ITU SEDERHANA, YANG RUMIT ITU ......(Part 1)

 CINTA ITU SEDERHANA, YANG RUMIT ITU.....(Part 1) Novelku 


Kutemui dia sebut saja si O dan mengatakan kepadaku, " Aku pingin jadi Romo" katanya. Setelah sekian lama berlalu ...akhirnya dia mewujudkan mimpinya itu dengan bangga..."Datang ya ke acara penjubahanku..."  . Akhirnya kuliat dia gembira menerima jubah itu, kelihatan bersinar dan gagah dengan jubah itu. Kuberikan selamat atas penerimaan jubah itu...dengan senyum mengembang, kami bersalaman, kukatakan padanya, " Semoga setia sampai akhir ya..." jawabnya, .."terima kasih kakak, doakan ya...". Acara itu sederhana dan sakral..banyak yang dihadiri orang tua, namun tak kuliat orang tuanya ada diantara mereka, namun dia tetap bersukacita membaur dengan teman-temannya dan para undangan lainnya. 

Setelah acara itu, waktu terus berjalan, dia tetap berkomunikasi denganku, segala curhatan, pergumulan dan perjuangannya selalu diceritakan padaku. Aku sudah  dianggapnya kakak perempuan yang bisa mengerti dia dan mendengarkan dia. Maklumlah dia adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Dia mempunyai adik perempuan yang dulu pernah menjadi muridku. Aku juga sudah mengenal keluarganya sehingga tak membuatku canggung atau asing di tengah keluarganya yang sederhana. 

Waktu terus berlalu, sampai akhirnya aku harus berpindah dari kota ke kota mengikuti tugas  yang harus kuterima dari kantor. Hampir 2 tahun sudah aku sudah membimbingnya dalam setiap pergumulan dan perjuangannya menjadi seorang calon Romo. Aku bersyukur bahwa banyak hal yang berkembang dalam dirinya. Kuliahnya yang menguras energinya mau tidak mau harus diselesaikan dengan susah payah. Suatu ketika dia mengatakan " Aku kesulitan membuat skripsi, tapi aku bersyukur dibantu teman-temanku", katanya. Jawabku, ...Syukurlah, kamu harus tetap semangat ya, tekuni itu dan selesaikanlah...pasti akan selesai skripsimu". Setelah berjibaku dengan skripsinya, akhirnya dia dapat menyelesaikan dengan baik dan lancar, pembimbingnya yang katanya 'killer' akhirnya meluluskan dia dengan nilai yang memuaskan. Aku ikut senang dengan kerja kerasnya. Satu tahap dia bisa melewatinya dengan baik dan lancar. 

Tibalah dia harus menjalankan perutusan tugas TOP yaitu Tugas Orientasi Pastoral. Dia mendapat tugas di daerah sebut saja kota K. Aku merasa senang bahwa tugasnya kali ini,  dia lebih menikmati dan mengubah cara pandangnya dalam berpastoral. "Kk, aku merasa tertantang dengan segala tugas yang diberikan, disisi lain aku harus berpikir bagaimana harus menghadapi sikap Rm pembimbingku yang notabene "seperti itu" katanya."  Jawabku," sabarlah, setiap orang harus berproses, kita bisa berkembang kalau ada tantangan dan rintangan. Namun yakinlah Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan kita. Hidupku juga tidak mulus dan lancar-lancar selalu. Kamu harus berjuang bagaimana bisa hidup bersama orang yang tidak bisa 'klik' denganmu, disitu kamu harus belajar sabar dan rendah hati untuk memahami setiap pribadi yang hidup bersamamu. Semakin 'hidup' kamu akan banyak belajar dari semua peristiwa untuk bekal dalam perjalanan panjangmu sebagai calon Romo dan akan menjadi Romo dengan tugas yang tidak mudah..jawabku." Katanya kepadaku, " Aku sudah berusaha namun ternyata aku harus banyak berbenturan karenanya. Bisakah aku bisa bertahan kakak?". Jawabku, " Bisa selagi kamu mau berjuang dan tekun setia...tapi kalau kamu belum berjuang dan mencoba dan mentok jadi jalan buntu tanpa ada solusi, kamu bisa mengatakan kepada Romo pembimbingmu, pasti akan dibantu masalahmu."

Selama 1 tahun berpastoral, dia akhirnya dapat dengan susah payah menyelesaikan TOP nya dengan baik. Perjalanan harus dilanjutkan, pembinaan terus diterima sebagai calon Romo. Setelah selesai S1 harus melanjutkan S2. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. 

Tiba-tiba dia mengatakan padaku, "Kakak aku sudah tidak tahan, aku akan mengakhirinya". Kata-kata itu membuatku merasa bahwa panggilan seseorang tidak bisa dipaksakan. Panggilan itu misteri antara yang dipanggil dan Tuhan. Kuterima keputusannya dengan hati bebas walaupun aku tidak terlalu kaget dengan keputusannya. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan menjadi Imam. 

Sebelum ketemu aku, dia sudah berpacaran dan mengenal banyak cewek sampai memutuskan untuk jadi calon Romo. Aku rasa motivasinya waktu itu benar-benar matang untuk memutuskan "YA" mau masuk ternyata aku salah. Motivasi yang tersembunyi yang belum kusadari kutemukan dalam perjalanan hidupnya. Setelah kudalami dan kuanalisis, motivasinya adalah masuk menjadi calon imam sebagai batu loncatan agar dia dapat kuliah dengan gratis dan bisa mendapat gelar, karena aku tahu bagaimana keluarganya yang sederhana tidak bisa menguliahkan dirinya sebagai anak pertama. Sedangkan adiknya juga dapat kuliah dengan bantuan ikatan dinas.  

Dalam perjalanannya sebagai calon Romo dan kedekatannya padaku, pernah dia mengungkapkan bahwa dia mencintaiku. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa dia bisa mengatakan itu kepadaku. Jarak umur yang selisih jauh 9 tahun sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Namun entahlah apa yang ada dalam pikirannya. Dia berusaha untuk mau menikahi aku, namun kutolak dengan halus. Tak kukatakan alasannya, namun dia sudah tahu apa yang terjadi. 

Suatu waktu, aku harus berpindah ke tempat yang jauh, dia masih berkomunikasi denganku dengan segala pergulatannya. Aku masih mendengarkan dan menerima curhatannya. Aku juga merasa bahwa begitu bodohnya aku masih berusaha untuk membimbingnya dengan segala suka dukanya. Dan akhirnya waktu itu tiba, tanpa mengatakan apapun dia memutuskan keluar dan menjalin hubungan dengan seorang janda anak 1 perempuan. Aku hanya mendengar dan mengetahui dari adiknya dan dari medsosnya. Dia memutuskan untuk menikahi janda itu dan mempunyai 2 orang anak laki-laki. Awalnya dia mengatakan bahwa pacarnya itu mirip mukanya denganku dan dia tidak melupakan aku. Ah, sudahlah biarlah cerita sudah selesai disini...semuanya sudah berlalu...Setelah 13 tahun mengenalnya, kuakhiri untuk tidak bersua lagi dengannya.

Suatu hari, pagi-pagi buta , aku melakukan perjalanan kereta pagi, dia tiba-tiba telepon padahal nomornya sudah kuhapus dari HPku dan mengatakan " Apa kabarmu?"...kuterima telepon itu dengan berat, entahlah dalam hatiku ada rasa sedih hadir menahan airmata untuk tidak jatuh, "Halo...baik, ada apa?" dengan nada tak bersahabat. Jawabnya, " Santai saja ga usah marah, tiba-tiba aku  mimpi kamu sakit dan dirawat di RS, kamu sehat kan?". Jawabku, " Sehat dan baik-baik saja". Kawabnya, "Baiklah kalau sehat dan baik-baik saja, kuharap selalu demikian." . Kututup percakapan itu dengan rasa sedih, tapi kubiarkan rasa itu mulai berangsur-angsur menjauh. Itulah terakhir aku mendengar suaranya. Kututup semua cerita dan berita tentang dia. 

 Sekian lama purnama berlalu, tiba-tiba SMS masuk..."Kenapa aku tidak  bertemu denganmu?", kamu ga ikut acara? katanya. Memang nomernya dia hanya kuhapus belum kublokir. Aku mencoba menjawab, "Kenapa, aku memang tidak hadir, malas dan aku tahu kamu pasti hadir!". Jawabnya," Oh begitu, padahal aku hadir berharap dapat bertemu denganmu", katanya. Tak kubalas lagi SMS nya. Aku mulai memblokir nomernya. 

Aku berharap bahwa tidak akan lagi bertemu dengannya dan aku hanya bisa mendengar dan melihat dari medsosnya bahwa dia berusaha untuk menghidupi keluarganya dengan kerja keras dan bertanggung jawab. Syukurlah...Berbahagialah...dalam hatiku.... 

 

 



No comments:

Post a Comment

BERSAHABAT DENGAN DIRI

  BERSAHABAT DENGAN DIRI     Perjalanan menuju dalam diri ternyata sebegitu mengasyikkan. Berawal dari refleksi dalam diri...bahwa tubuh ini...