Kehilangan merupakan fase dimana setiap orang pasti mengalami. Kehilangan ada 2 tipe yaitu kehilangan aktual/nyata dan kehilangan persepsi.Tak satupun orang di dunia ini yang tak lepas dari situasi kehilangan. Kehilangan mempunyai banyak makna. Ada 5 jenis kehilangan yaitu kehilangan orang-orang yang special/tercinta (orang tua, sanak saudara, suami, istri, anak, sahabat, kekasih), kehilangan pada diri sendiri, kehilangan obyek eksternal (barang, hewan kesayangan), kehilangan lingkungan yang sangat dikenal ( moment, situasi kondisi, pekerjaan) dan kehilangan kehidupan / meninggal.
Terkadang situasi yang sungguh tak menyenangkan ini menjadi sebuah kesedihan dan penderitaan tersendiri bagi yang mengalami bahkan sampai mengalami gangguan kejiwaan yang tak tersembuhkan akhirnya menjemput maut. Namun banyak juga yang mengalami kehilangan menjadi moment yang sangat berharga bahwa Tuhan masih mencintai, menyelamatkan, menata kembali hidupnya yang sudah lama jauh dariNya dan bahkan belum mau bertobat. Banyak makna yang bisa digali dari sebuah rasa kehilangan. Dari duka menjadi makna.
Ada 5 fase kehilangan yaitu:
- Fase Denial (mengingkari)
- Fase Anger (marah)
- Fase Bargaining (tawar menawar)
- Fase Depression (depresi)
- Fase Acceptance (menerima)
Dari kelima tahapan fase tersebut tentunya setiap orang tidak akan pernah sama untuk bergulat dalam sebuah kehilangan. Aku sudah merasakan semua tahapan fase hanya kadarnya berbeda-beda.
Aku mengalami ditinggal oleh Bapak, awalnya masih belum percaya. Apakah ini mimpi bahwa Bapak sudah tiada. Tahap pertama sudah aku lewati, setelah itu langsung tahap kelima aku bisa menerima bahwa kehendak Tuhan yang terjadi dan yang terbaik, tetapi hanya caraNya tak pernah bisa dimengerti. Setelah aku mendengar cerita sebelum Bapak wafat akhirnya aku bisa memahami bahwa Tuhan sangat mencintai Bapak, hanya yang ditinggalkan terkadang belum bisa memahami cara Tuhan memanggil Bapak begitu cepat dari kami.
Peristiwa kehilangan begitu banyak aku alami. Membuatku selalu siap dengan apapun yang akan terjadi. Bahkan sampai berpikir bahwa aku akan siap juga bila sewaktu-waktu harus pergi dari dunia ini, karena aku tahu bahwa hidup dan mati hanya milik Tuhan. Bila Tuhan berkehendak, manusia tidak bisa berbuat apapun. Berdoalah dan berjaga-jagalah.
Kehilangan orang tua, teman, sahabat dll terkadang membuatku memandang hidup ini hanya punya satu tujuan. Tujuannya mempersiapkan hidup ini menuju kematian yang bahagia. Bahagia menurut caraku untuk bisa menghadap Tuhan dengan layak. Masalahnya apakah aku sudah layak untuk bersiap diri dipanggil untuk mempertanggungjawabkan hidup yang sudah diberikan kepada-Nya. Rasanya masih jauh dari layak bahkan tidak layak.
Kehilangan orang yang dicintai selain orang tua juga membuatku mengalami kehilangan yang tidak mudah. Mereka pergi tanpa ada kata-kata atau aku yang pergi dengan sejuta tanya mengapa harus demikian. Mungkin cara-Nya Tuhan harus demikian. Bicara tentang mencintai mungkin aku bisa mencintai orang yang mampu memahami dan mengerti kekurangan dan kelebihanku. Belajar memberikan kehidupan yang cukup sederhana untuk memaknai hidup. Cara mencintai yang beraneka ragam yang kuterima walaupun itu terkadang menyakitkan kurasakan. Namun itulah hidup tercipta biar hidup lebih hidup.
Tidak seorangpun bisa memahami setiap manusia satu sama lain selain dirinya sendiri. Hanya diri sendirilah yang tahu harus berbuat apa untuk hidupnya. Memutuskan untuk melanjutkan hidup atau tidak menjadi urusan dirinya sendiri dengan Tuhan.
Kehilangan menjadi moment dimana aku memahami bahwa semua yang ada didunia ini tiada yang pasti. Semua hanya sementara. Hidup hanya mung mampir ngombe, suatu peziarahan, perjalanan yang tidak pasti sampai dimana ujungnya. Yang perlu dipersiapkan cukup bekal untuk bertemu denganNya. Yang pasti hanyalah kematian.
#my room#Probolinggo#16Des2022#Pk. 20.10
No comments:
Post a Comment