Berbicara tentang kebebasan banyak hal yang harus dituangkan. Kebebasan dalam arti Merdeka. Bangsa kita sudah merdeka diangka 77 tahun. Namun apakah arti merdeka yang sesungguhnya dapat dirasakan oleh semua pihak dan rakyat yang masuk didalamnya. Tentunya hal tersebut masih dalam sebuah perdebatan panjang dan perlu didiskusikan lebih lanjut. Ada dua kebebasan yang seringkali kita dengar yaitu merdeka untuk dan merdeka dari. Belajar dari bangsa yang merdeka dengan segala kebebasannya masihkah kita mempertanyakan bahwa kebebasan kita sangat diatur oleh pretensi kepentingan dari sisi hidup berbangsa dan bernegara yang benar?....Baiklah kita berbicara dalam lingkup skup yang lebih kecil yaitu dimulai dari diri kita sendiri.
Kebebasan yang kita rasakan tentunya dimulai dari pola pikir, cara pandang dan cara bertindak kita dalam berperilaku hidup dalam lingkungan keluarga, komunitas dan masyarakat. Rasa-rasanya tidak mustahil bahwa seringkali kebebasan yang kebablasan cenderung membuat kita mudah untuk mentoleransi apa yang kita lakukan padahal itu jelas-jelas salah malah mencari kambing hitam supaya kesalahan kita tersamarkan dan teralihkan. Kita sadari bahwa kita perlu memilih dan memilah mana yang bebas dari dan bebas untuk..Kita dianugerahi organ tubuh yang komprehensif untuk berpikir dan memutuskan atas apa yang akan kita lakukan. Disinilah peran bahwa seluruh hidup kita dikendalikan oleh organ-organ tubuh kita yang sangat mumpuni.
Berbicara tentang kebebasan, saya teringat tentang cerita waktu saya masih sekolah. Kala itu saya belum bisa naik motor dengan mumpuni, belum punya SIM juga. Awal belajar naik motor diajari satu kali oleh teman saya, kebetulan di depan rumah ada stadion lapangan rumput untuk sepak bola, konser, dll dan dibatasi jalan raya. Naik pertama langsung dilepas, belajar masukkan gigi...lancar...setelah itu ditantang untuk keluar stadion..masuk jalan raya...awalnya lancar..sepeda motor berjalan pelan...giliran pulang untuk berhenti, saya tidak bisa menghentikan sepeda motor karena saya tidak diajari bagaimana mengerem motor...dimana letak untuk alat remnya. Akhirnya dalam kepanikan teman saya yang pegang kendali untuk mengerem motor. Untunglah saat itu jalan raya masih sepi karena saya belajar malam hari. Saya bebas untuk belajar motor tapi belum bebas untuk berpikir lebih luas bagaimana cara mengerem, cara mengendalikan ketika macet, cara merawat motor dll. Disitulah saya mulai belajar untuk berpikir bahwa segala sesuatu yang dipelajari butuh hal-hal yang prinsip bukan sekedar senang belajar terus bisa. Mengenai naik motor lagi saya dihadapkan pada peristiwa yang memilukan terjadi, karena belum terlalu mumpuni naik motor dan belum punya SIM, saya nekat pinjam motor teman, mengendarai, membonceng dan terjadilah kecelakaan yang membuat saya kehilangan teman saya dalam usia muda. Kecelakaan terjadi hari Rabu, teman saya pergi untuk selamanya hari Minggu. Pengalaman yang membuat saya lebih berhati-hati dalam berpikir dan bertindak. Saya bersyukur bahwa pengalaman itu yang membawa saya untuk belajar bahwa kebebasan butuh konsekuensi yang tidak mudah. Kebebasan yang bertanggung jawab menjadi prinsip dalam melanjutkan setiap lika liku perjalanan hidup ini.
Kebebasan untuk memilih juga mewarnai perjalanan hidupku. Memilih untuk bahagia dengan pilihan atau memilih untuk tidak bahagia dengan pilihan. Semua ada konsekuensi yang harus ditanggung. Kata orang bahagia itu sederhana. Saya merasa kebahagiaan seharusnya memang harus diusahakan dari dalam diri sendiri terlebih dahulu. Ketika kita menuntut untuk bahagia dari orang lain, situasi dan lingkungan maka yang terjadi adalah bukan bahagia tetapi sebaliknya. Kebebasan untuk bahagia lahir dalam diri...terpancar dalam wajah kita...terkadang orang bilang wajah bisa menipu tetapi mata dan hati tidak bisa ditipu. Untuk itu mencari bahagia secara bebas seharusnya memang keluar dari hati dan terpancar dari wajah dan perilaku kita. Saya bersyukur bahwa saya berusaha untuk bahagia dengan diri sendiri, dengan segala kelemahan dan kelebihan yang saya miliki sehingga saya tidak menuntut bahwa kebebasan untuk bahagia saya direngut oleh situasi orang lain dan lingkungan. Terkadang kalimat "Bodo amat" seringkali menyelamatkan dari situasi-situasi yang tidak membuat bahagia. Kalimat " semua ini akan berlalu" menjadi prinsip yang menyelamatkan. Mungkin sebagian orang tidak setuju dengan pernyataan saya ini hehhehe...
No comments:
Post a Comment